Maka umma memilih sekolah yang sesuai visi keluarga. Agar values yang di berikan tidak luntur.
Hari ini di sekolah anak anak diberikan tugas untuk mengamati langit, taddabur benda langit untuk meningkatkan rasa syukur.
Malam sebelum sholat isya umma dan anak anak pergi ke lapangan dekat rumah, untuk mengamati langit dengan jelas. Sebelum mengamati dengan tropong DIY. Umma bercerita terlebih dahulu kepada anak anak, bahwa
Al-Qur’an Menyebut Bintang Bukan untuk Astronomi. Lalu Untuk Apa? Sebuah Keajaiban yang Jarang Disadari. Bayangkan kalian berada di tengah lautan pada malam yang gelap. Tidak ada kompas, tidak ada GPS, tidak ada mercusuar, bahkan tidak ada sinyal telepon. Di mana arah utara? Ke mana harus berlayar agar tidak
Ribuan tahun sebelum satelit mengorbit bumi, manusia telah menemukan “peta” yang selalu menyala di atas kepala mereka. Anehnya, Al-Qur’an telah mengarahkan pandangan manusia kepada peta itu jauh sebelum ilmu navigasi modern berkembang.
Allah berfirman,
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sungguh, Kami telah menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.”
(QS. Al-An’am: 97)
Dan Allah juga berfirman,
“Dan tanda-tanda (penunjuk jalan) yang lain. Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl: 16)
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang bintang, Allah memang menyebutnya sebagai penghias langit. Namun, Al-Qur’an tidak berhenti di sana. Allah justru memperkenalkan fungsi yang jauh lebih penting: penunjuk jalan.
Mengapa?
Bintang Tidak Hanya Indah, Tetapi Berguna untuk petunjuk arah pelaut, mushafir, dll. Allah menjadikan bintang sebagai petunjuk ketika manusia tersesat dalam gelapnya malam. Tetapi Allah juga menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk ketika manusia tersesat dalam gelapnya kehidupan.
Jika kehilangan Al-Qur’an, seorang manusia bisa tersesat sepanjang hidupnya. Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya menyebut bintang sebagai hiasan langit.
Allah ingin mengajarkan bahwa setiap ciptaan memiliki tujuan, dan manusia yang paling cerdas bukanlah yang sekadar mampu mengagumi langit, melainkan yang mampu membaca pesan Allah di balik langit itu.
Karena bintang hanya menuntun manusia menuju tujuan di bumi. Sedangkan Al-Qur’an menuntun manusia menuju tujuan yang jauh lebih besar: jalan yang mengantarkan kepada ridha Allah dan surga-Nya. Ketika manusia kehilangan bintang, ia mungkin tersesat beberapa hari. Tetapi ketika manusia kehilangan petunjuk Al-Qur’an, ia bisa tersesat selamanya.
“Anakku, hitunglah berapa banyak bintang dinlangit, kalau capek, nikmat Allah lebih dari itu. Perbanyak besyukur dengan rajin sholat dan berbuat baik ya nak…”





